Pw S. Skolastika, Perawan.
Bacaan Liturgi: Kej. 1:20-2:4a; Mrk. 7:1-13.

“Perintah Allah itu Utama di atas segalanya”

Dikisahkan bahwa ada segerombolan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka mempersoalkan tindakan para murid yang menurut mereka najis karena para murid makan tanpa membasuh tangan lebih dahulu. Yesus menanggapi sikap kaum Farisi dan

"Perintah Allah itu Utama di atas segalanya"

“Perintah Allah itu Utama di atas segalanya”

para ahli Taurat ini dengan menyebut mereka sebagai orang-orang munafik. Perintah Allah mereka abaikan dan berpegang pada adat istiadat manusia.

Tak jarang kita pun menghayati kehidupan keagamaan kita atas cara yang sama. Kita mengabaikan perintah Allah dan hanya berpegang pada adat istiadat. Intisari dari perintah Allah adalah kasih. Inilah hukum yang pokok dan utama yang seharusnya mendasari dan menjiwai seluruh hukum lainnya. Teguran Yesus kepada kaum Farisi dan para ahli Taurat ini hendak menekankankan satu hal penting. Orang selamat bukan karena menjalankan adat istiadat dan segala peraturan buatan manusia, melainkan karena orang menghayati seluruh hidupnya di dalam kasih. Sebab kasih itu adalah Allah sendiri. Mengabaikan perintah Allah berarti menjauh dari pada-Nya. Sedangkan barang siapa hidup di dalam kasih berarti hidup di dalam Tuhan.

Selamat pagi dan selamat beraktifitas dalam kasih dan lindungan Tuhan.

Salam dan doaku.
Rm. Alo Matruty, Pr.