"Hening di hadapan Tuhan"

“Hening di hadapan Tuhan”


Hari Biasa, Pekan Biasa IV.
Bacaan Liturgi: Ibr. 13:15-1720-21; Mrk. 6:30-34.

“Hening di hadapan Tuhan”

Setelah melaksanakan tugas perutusannya, para murid kembali berkumpul bersama Yesus dan menceritakan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Yesus mengajak mereka bersama-sama pergi dan mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi dan beristirahat. Ketika bertolak, banyak orang yang melihat dan segera mengambil jalan darat dan tiba lebih dulu ke tempat yang mereka tuju. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Yesus hendak menunjukkan satu hal terpenting kepada para murid bahwa di tengah segala kesibukan perlu ada saat tenang dan istirahat di hadapan Tuhan melalui doa, meditasi dan kegiatan rohani lainnya. Tak cukup kita hanya sampai pada evaluasi tentang pelaksanaan program dan kegiatan pelayanan. Semuanya perlu dimaknai dalam suasana hening di hadapan Tuhan. Saat untuk bersyukur kepada Tuhan atas semua keberhasilan yang dicapai, sekaligus saat untuk menata kembali seluruh orientasi hidup dan karya pelayanan selanjutnya agar kita selalu sejalan dalam kehendak Dia yang memanggil dan mengutus kita. Peningkatan kemampuan dan ketrampilan kita dalam pelayanan itu, antara lain menjadi aspek penting. Di atas semuanya, kita perlu memiliki hati seperti Yesus, hati yang berbelas kasih kepada orang lain.

Selamat pagi dan selamat berakhir pekan dalam kasih dan lindungan Tuhan.

 Salam dan doaku.
Rm. Alo Matruty, Pr.